Blog ini didedikasikan untuk kepentingan pengetahuan dunia islam dan hal-hal berkaitan dengan keislaman. Semoga jadi ajang diskusi yang sehat buat kita. jazakallahu khairan....

Terbaru | Video | Mp3 Kajian

'Alam Islami

More on this category »
Fiqih “Maka mengapa org2 itu(munafik) hampir2 tidak memahami pembicaraan sedikitpun?”(QS 5:78)

More on this category »
Thibbun Nabawi "Setiap penyakit ada obatnya,...(Al-Hadits)

More on this category »
Bahasa Arab

More on this category »
Konspirasi

More on this category »
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Februari 2013

Ummu Sulaim Al Ghumaisha binti Milhan


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Aku masuk ke dalam surga, lalu aku mendengar suara langkah orang berjalan. Aku bertanya: ‘Siapa itu?’ Mereka (para malaikat) menjawab: ‘Dia adalah Al Ghumaisha (wanita yang mudah menangis) putri Milhan.”‘ (HR Muslim)[1]
1. Perkawinan Ummu Sulaim Sangat Istimewa
Jabir bin Abdullah mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Diperlihatkan kepadaku surga, lalu aku melihat istrinya Abu Thalhah.” (HR Muslim)[2]
Dalam perkawinannya dengan Abu Thalhah terdapat kisah yang menunjukkan kekuatan iman dan harga dirinya. Dari Tsabit Al Banani, dari Anas, dia berkata: “Abu Thalhah meminang/melamar Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata: ‘Demi Allah, orang seperti kamu ini, wahai Abu Thalhah, tidak mungkin ditolak. Cuma sayangnya kamu masih kafir, sementara aku adalah wanita muslimah. Tidak halal bagiku kawin denganmu. Tetapi jika kamu mau masuk Islam, maka itulah maskawinku, dan aku tidak akan meminta yang lain lagi kepadamu (padahal Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling kaya karena kebun kurmanya di Madinah).[3] Akhirnya dia masuk Islam dan itulah yang dia jadikan mahar untuk mengawini Ummu Sulaim.” Tsabit Al Banani berkata: “Aku belum pernah melihat seorang wanita sama sekali yang lebih mulia maskawinnya dibandingkan dengan maskawin Ummu Sulaim.” (HR an-Nasa’i)[4] Tepat sekali pilihan Ummu Sulaim. Abu Thalhah akhirnya menjadi salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang paling menonjol, pahlawan yang sangat berani dan sangat pemurah berkorban di jalan Allah.
2. Keutamaan Suami Ummu Sulaim
Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Ketika terjadi Perang Uhud, banyak pasukan Islam yang lari meninggalkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Tetapi, Abu Thalhah tetap bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan dia melindungi nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sebuah tameng miliknya. Abu Thalhah terkenal sebagai seseorang yang mahir dalam urusan memanah dan juga sangat pemberani. Pada waktu itu Abu Thalhah membawa dua atau tiga busur sekaligus. Namun sayang dia kehabisan anak panah. Beruntung pada saat itu ada yang memberinya anak-anak panah. Sementara itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menengok ke luar untuk melihat keadaan pasukannya yang porak poranda. Lalu Abu Thalhah berkata: ‘Wahai Nabiyullah, demi bapak dan ibuku, jangan engkau lakukan itu. Saya tidak ingin engkau menjadi sasaran anak panah musuh, biar leher saya saja yang terkena, asal jangan leher engkau …’ Pedang sempat jatuh dari kedua tangan Abu Thalhah dua atau tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)[5]
Anas bin Malik berkata: “Abu Thalhah adalah seorang sahabat Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah berupa pohon kurma. Hartanya yang paling dia senangi adalah taman Bairuha’ yang letaknya menghadap ke masjid. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa memasuki taman itu dan meminum airnya yang bagus.” Anas berkata: bahwa ketika turun firman Allah yang berbunyi: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai,” Abu Thalhah berusaha menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah berfirman: ‘Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai.’ Harta yang paling aku cintai adalah taman Bairuha’ dan aku ingin menyedekahkannya untuk Allah dengan harapan aku bisa memperoleh kebajikan-Nya dan menjadi simpanan di sisi Allah. Lakukanlah sesuatu, wahai Rasulullah, terhadap taman itu sesuai dengan yang diridhai Allah.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Wah, harta itu banyak mengalirkan pahala kepada pemiliknya atau banyak menghasilkan untung.” (Abdullah ragu): “Dan aku telah mendengar dan paham apa yang baru kamu katakan. Menurutku, sebaiknya kamu berikan saja kepada anggota keluargamu yang terdekat.” Abu Thalhah berkata: “Akan aku laksanakan, wahai Rasulullah.” Lalu Abu Thalhah membagi-bagikan harta yang paling dicintainya itu kepada kaum kerabatnya yang terdekat, dan juga kepada keponakan-keponakannya.” (HR Bukhari dan Muslim)[6]
3. Penuh Perhatian dan Kesabaran terhadap Suami
Anas mengatakan bahwa anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu Ummu Sulaim berkata kepada keluarganya: “Jangan kalian ceritakan kepada Abu Thalhah perihal anaknya itu. Biar aku sendiri yang akan bercerita kepadanya.”
Anas berkata: “Ketika Abu Thalhah datang, Ummu Sulaim menghidangkan santap malam kepadanya. Setelah Abu Thalhah makan dan minum dengan puas, Ummu Sulaim pergi ke kamar untuk bersolek secantik mungkin. Abu Thalhah bangkit nafsu birahinya sehingga dia lalu menggaulinya. Setelah melihat Abu Thalhah kenyang dan kebutuhan biologisnya telah terpuaskan, Ummu Sulaim mulai berkata: “Wahai Abu Thalhah, bagaimana menurutmu jika ada satu kaum meminjamkan barangnya kepada suatu keluarga misalnya, kemudian mereka memintanya kembali barang yang dipinjamkan tersebut, apakah keluarga tersebut berhak menolaknya?” Abu Thalhah menjawab: “Tidak.” Ummu Sulaim berkata: “Kalau begitu, tabahkanlah hatimu dengan kematian anakmu.” Abu Thalhah menjadi marah, dia berkata: “Kamu biarkan aku menikmati pelayananmu, kemudian baru kamu beritahukan kepadaku tentang anakku.” Abu Thalhah pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan menceritakan apa yang telah terjadi. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mudah-mudahan Allah memberi berkah pada malam yang telah kalian lewati dengan manis itu.” Ummu Sulaim kemudian hamil.
Pada suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bepergian dan kebetulan Ummu Sulaim ikut bersama beliau. Apabila memasuki kota Madinah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasanya tidak melakukannya di malam hari sehingga harus mengetuk-ngetuk pintu rumah segala. Saat mereka sudah dekat ke Madinah, tiba-tiba Ummu Sulaim merasa sakit karena sudah dekat melahirkan. Abu Thalhah berusaha menolongnya dan menyuruhnya supaya sabar. Sementara itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus saja berjalan. Abu Thalhah berkata sendiri: “Ya Tuhan, Engkau tahu sendiri bahwa aku senang sekali bisa selalu bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Aku sudah berusaha sabar seperti yang Engkau tahu.” Ummu Sulaim berkata: “Wahai Abu Thalhah, rasanya aku tidak mendapati sesuatu yang biasa aku dapati. Berangkat sajalah kamu!” Sepeninggalnya, kembali Ummu Sulaim merasa sakit seperti mau melahirkan. Ternyata dia memang melahirkan seorang anak laki-laki. Ibuku berkata kepadaku: “Wahai Anas, siapa pun tidak boleh menyusukannya sebelum kamu membawanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” Pagi-pagi sekali aku bawa anak itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Kebetulan waktu itu aku mendapati beliau sedang membawa besi penyelar (penanda). Begitu melihatku beliau bertanya: “Barangkali saja Ummu Sulaim sudah melahirkan?” Aku jawab: “Benar.” Beliau meletakkan besi penyelar tersebut. Aku bawa anak itu, lalu aku letakkan di pangkuan beliau. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kemudian minta diambilkan sebutir kurma Madinah. Beliau kunyah kurma tersebut di mulutnya sampai hancur, kemudian beliau suapkan ke mulut anak tersebut. Anak tersebut mengecapnya. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Lihatlah, betapa sukanya orang-orang Anshar pada kurma.” Setelah itu beliau mengusap wajah anak tersebut dan memberinya nama Abdullah.” (HR Bukhari dan Muslim)[7]
4. Perhatian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap Ummu Sulaim
Anas bin Malik r.a berkata: “Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah masuk suatu rumah di Madinah (secara terus menerus) selain rumah Ummu Sulaim, kecuali ke rumah para istri beliau. Ketika hal itu ditanyakan, beliau menjawab: ‘Aku merasa kasihan kepadanya karena saudaranya terbunuh sewaktu bersamaku.’” (HR Bukhari dan Muslim)[8]
Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila lewat di dekat Ummu Sulaim, beliau singgah menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya.” (HR Bukhari) [9]
Anas Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang mengunjungi Ummu Sulaim. Lantas Ummu Sulaim menghidangkan kurma dan minyak samin kepada beliau. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Kembalikanlah minyak samin dan kurmamu ke tempatnya masing-masing sebab aku sedang berpuasa. Kemudian beliau pergi ke salah satu pojok rumah, lalu melaksanakan shalat bukan fardu. Beliau memanjatkan doa untuk Ummu Sulaim dan anggota keluarganya.” Lalu Ummu Sulaim berkata: “Wahai Rasulullah, aku meminta sesuatu yang agak khusus.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Apa itu?” Ummu Sulaim berkata: “Pembantumu si Anas. Tidak satu pun yang tinggal dari kebaikan akhirat, begitu pula dunia, kecuali dia berdoa untukku: ‘Ya Allah, beri rezekilah dia harta dan anak yang banyak dan berkahilah dia.’”
(Anas berkata): “Sesungguhnya aku termasuk di antara orang-orang Anshar yang paling banyak memiliki harta dan putriku Umainah (Aminah) menceritakan kepadaku bahwa anak cucuku yang telah dikaburkan sewaktu kedatangan Hajjaj ke Bashrah lebih dari seratus dua puluh orang.” (HR Bukhari) [10]
Anas bin Malik berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah datang ke rumah Ummu Sulaim dan beristirahat tidur di atas tempat tidurnya. Saat itu Ummu Sulaim tidak ada di rumahnya. Pada hari yang lain beliau juga datang lagi dan beristirahat tidur di tempat tidurnya Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim ditemui oleh seorang sahabat dan diberitahu: ‘Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang tidur di rumahmu, di atas tempat tidurmu.’ Ummu Sulaim segera pulang, dia melihat beliau berkeringat, dan keringat beliau terkumpul pada sehelai hamparan kulit yang terdapat di atas tempat tidur. Ummu Sulaim lalu membuka kotak kecil miliknya. Dia kemudian menyeka keringat tersebut dengan sebuah handuk dan memerasnya ke dalam kotak kecil tadi. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terbangun, lalu bertanya: ‘Apa yang sedang kamu kerjakan ini, wahai Ummu Sulaim?’ Dia menjawab: ‘Wahai Rasulullah, aku berharap mencari berkahnya untuk anak-anakku.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Kamu benar.’” (HR Muslim) [11]
Anas berkata: “Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah orang yang paling baik budi pekertinya, dan aku mempunyai seorang saudara yang bernama Abu Umair. Dia berkata: ‘Aku mengiranya seusia anak sapihan.’ Setiap beliau datang, beliau selalu bertanya: ‘Hai Abu Umair, apa yang dilakukan burung pipit yang selalu dimainkan Abu Umair?’ Kadang-kadang datang waktu shalat sewaktu beliau berada di rumah kami. Maka beliau meminta diambilkan hamparan yang diduduki oleh Abu Umair, kemudian disapu dan disiram sedikit dengan air. Setelah itu beliau berdiri untuk melakukan shalat dan kami pun berdiri di belakang beliau. Kemudian beliau shalat bersama kami.” (HR Bukhari)[12]
5. Perhatian Ummu Sulaim dan Keluarganya terhadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Anas bin Malik berkata: “Ketika orang-orang Muhajirin tiba di Madinah dari Mekah, mereka tidak memiliki apa-apa. Sementara itu orang-orang Anshar banyak memiliki tanah dan pekarangan. Orang-orang Anshar kemudian membagikan tanah atau pekarangan kepada saudara-saudaranya dan mereka memperoleh bagi hasil sebanyak separuh setiap tahunnya. Pekerjaan dan biaya penggarapannya juga sudah mereka cukupi. Ibu Anas bin Malik (yaitu Ummu Sulaim) memberikan pohon kurmanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” (HR Bukhari dan Muslim)[13]
Anas berkata: “Aku diajak oleh ibuku menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Separuh selendangnya dikenakannya kepadaku sebagai sarung dan separuh lagi sebagai selempang. Ibuku berkata: ‘Wahai Rasulullah, si kecil Anas ini adalah putraku. Aku serahkan dia kepadamu untuk melayanimu. Maka panjatkanlah doa kepada Allah untuknya.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun berdoa seraya berkata: ‘Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya.’Anas berkata: ‘Demi Allah, sungguh hartaku sangat banyak, sedangkan anak cucuku sudah lebih dari seratus orang sekarang ini.’” (HR Bukhari)[14]
Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu berkata bahwa dia baru berumur sepuluh tahun ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang ke Madinah: “Ibu menasihatiku supaya terus-menerus dan tabah melayani Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Aku sempat melayani beliau selama sepuluh tahun, dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meninggal dunia ketika aku berusia dua puluh tahun.” (HR Bukhari)[15]
Anas berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menemuiku ketika aku sedang bermain-main dengan beberapa anak sebayaku. Beliau mengucapkan salam kepada kami, kemudian beliau menyuruhku untuk mengerjakan suatu keperluan.. Hal itu membuat aku terlambat pulang kepada ibuku. Begitu aku datang, ibuku bertanya: ‘Apa yang membuatmu terlambat?’ Aku menjawab: ‘Aku disuruh oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk suatu keperluan.’ Ibuku bertanya: ‘Apa keperluan beliau itu?’ Aku jawab: ‘Itu rahasia.’ Ibuku berkata: ‘Kalau begitu, jangan kamu ceritakan rahasia Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada siapa pun!’ Anas berkata: ‘Demi Allah, andaikata aku boleh menceritakannya kepada seseorang, tentu aku telah menceritakannya kepadamu, wahai Tsabit.’” (HR Muslim)[16]
Anas bin Malik berkata: “Setelah melakukan akad nikah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menemui istrinya. Sementara itu ibuku Ummu Sulaim membuatkan sebaki makanan haisah (yang terbuat dari keju, kurma, dan minyak samin), lalu dia berkata kepadaku: ‘Hai Anas, bawalah makanan ini kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan katakan: “Ibuku menyuruhku mengantarkan makanan ini kepadamu, dan dia mengucapkan salam kepadamu.” Kemudian katakan kepada beliau: “Ini ada sedikit makanan dari kami untukmu, wahai Rasulullah.”‘ Anas berkata: “Lalu aku pergi membawa makanan itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Sesampainya di tempat beliau, aku berkata: ‘Ibuku mengucapkan salam untukmu dan dia berkata: “Ini ada sedikit makanan dari kami untukmu, wahai Rasulullah.”‘ Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Letakkanlah dulu makanan itu!’ Kemudian beliau berkata: ‘Pergilah kamu memanggil si fulan, si fulan, si fulan, dan orang-orang yang kamu temui …’” (HR Bukhari dan Muslim)[17]
Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyerang Khaibar … dan kami menaklukkannya dengan pertempuran yang dahsyat. Kami mengumpulkan para tawanan. Tiba-tiba datang seorang prajurit yang bernama Dahyah. Dia berkata: “Wahai Nabiyallah, berilah aku seorang tawanan wanita.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Pergilah ambil seorang!” Anas berkata: “Lalu Dahyah mengambil tawanan wanita yang bernama Shafiyyah binti Huyay.” Melihat hal itu, prajurit lainnya bergegas melapor kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Nabiyullah, apakah engkau berikan kepada Dahyah, Shafiyyah binti Huyay, seorang pemuka Bani Quraizhah dan an-Nadhir? Dia itu sama sekali tidak pantas kecuali untukmu, wahai Rasulullah!” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Panggil Dahyah bersama wanita itu ke sini!” Lalu Dahyah datang bersama wanita itu. Setelah melihat wanita itu sejenak, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada Dahyah: “Kamu ambil tawanan wanita yang lain saja!” Anas berkata: “Lantas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerdekakan Shafiyyah binti Huyay, kemudian mengawininya …” Ketika sampai di tengah perjalanan, Ummu Sulaim mempersiapkan dan mendandani Shafiyyah. Menurut riwayat Muslim[18]: “Kemudian beliau menyerahkannya kepada Ummu Sulaim dan diperindah. Shafiyyah disuruh menunggu di rumah Ummu Sulaim selama masa ‘iddah. Kemudian pada suatu malam Ummu Sulaim menyerahkan Shafiyyah kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan diadakanlah acara perkawinan.” (HR Bukhari dan Muslim)[19]
6. Cerdas dan Penuh Tawakkal kepada Allah
Anas bin Malik berkata bahwa Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim: “Aku mendengar suara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam demikian lemah. Aku tahu beliau lapar. Apakah engkau mempunyai sesuatu?” Ummu Sulaim menjawab: “Ya.” Lalu Ummu Sulaim mengeluarkan beberapa potong roti dari gandum. Kemudian dia mengambil kerudungnya dan membungkus roti dengan sebagian kerudung itu, lalu dia sisipkan di bawah bajuku, sedangkan sebagian kerudung dia selendangkan ke kepalaku. Kemudian dia menyuruhku pergi ke tempat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam” Anas berkata: “Lalu aku pergi membawa roti tersebut. Aku temukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sedang duduk di masjid bersama orang banyak. Aku menghampiri mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya kepadaku: ‘Apakah Abu Thalhah menyuruhmu?’Aku jawab: ‘Ya, benar.’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi: ‘Membawa makanan?’ Aku menjawab: ‘Ya.’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada orang-orang yang bersama beliau: ‘Bangunlah kalian semua!’ Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berangkat bersama mereka, sementara aku berada di hadapan mereka untuk segera memberitahu Abu Thalhah. Maka berkatalah Abu Thalhah: ‘Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah datang bersama orang banyak, tetapi kita tidak mempunyai makanan yang cukup untuk dihidangkan kepada mereka.’ Ummu Sulaim berkata: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.’ Lalu Abu Thalhah menyongsong Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam datang dan masuk bersama Abu Thalhah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: ‘Bawa ke sini apa yang ada padamu, wahai Ummu Sulaim!’ Ummu Sulaim datang memberi roti tersebut. Lalu memeras minyak saminnya untuk lauk pauk roti. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendoakan makanan itu. Setelah itu beliau berkata: ‘Persilakanlah sepuluh orang masuk!’ Setelah diizinkan masuk mereka makan sampai kenyang, kemudian keluar. Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kembali: ‘Persilakan masuk sepuluh orang lagi.’ Setelah diizinkan, mereka pun masuk dan makan sampai kenyang, kemudian pergi. Setelah itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kembali memerintahkan: ‘Persilakan masuk sepuluh orang lagi.’ Setelah diizinkan, mereka pun masuk dan makan sampai kenyang. Semua orang makan sampai kenyang hingga jumlah mereka mencapai tujuh puluh atau delapan puluh orang.’ Dan menurut riwayat Muslim[20]: “Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam makan bersama Abu Thalhah, Ummu Sulaim, dan Anas bin Malik. Ternyata masih tersisa, maka kami memberikannya kepada tetangga-tetangga kami.” (HR Bukhari dan Muslim)[21]
7. Ikut Berbai’at dan Menepati Janji
Ummu Athiyyah Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Ketika melakukan bai’at, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menuntut kami untuk tidak meratap. Tidak ada wanita yang menepati bai’at (janji)nya kecuali lima orang saja, yaitu: Ummu Sulaim, Ummu Al ‘Ala’, putri Abu Sabrah, istri Mu’adz, dan dua orang wanita lagi.” (HR Bukhari dan Muslim)[22]
8. Memiliki Sifat Malu yang Positif
Ummu Salamah berkata bahwa Ummu Sulaim datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran. Apakah wanita wajib mandi apabila dia mimpi (bersetubuh)?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab: “Apabila wanita itu melihat air (mani).” (HR Bukhari dan Muslim)[23]
Benar sekali Aisyah, Ummul Mukminin, yang berkata: “Sebaik-baik kaum wanita adalah kaum wanita Anshar. Mereka tidak dihalangi oleh rasa malu dalam mendalami masalah agama.” (HR Muslim)[24]
9. Ikut Serta dalam Berjihad
Anas Radhiyallahu ‘Anhu berkata: “Ketika terjadi Perang Uhud, banyak pasukan Islam yang lari meninggalkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim sibuk sekali melayani pasukan. Mereka menyingsingkan pakaian sehingga kelihatan olehku gelang-gelang kaki mereka. Dengan langkah cepat mereka mengangkat girbah air di atas punggung mereka untuk memberi minum pasukan Islam. Kemudian pergi lagi mengisi girbah air tersebut, lalu datang lagi untuk memberi minum pasukan sampai isi girbah itu kosong.” (HR Bukhari dan Muslim)[25]
Anas bin Malik berkata: “Pernah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berperang dengan mengajak Ummu Sulaim. Bahkan, beberapa wanita Anshar juga pernah ikut berperang bersama beliau. Tugas wanita-wanita Anshar itu adalah memberi minum dan mengobati pasukan yang terluka (di antara peperangan yang diikuti oleh Ummu Sulaim adalah Perang Khaibar.) [26] (HR Muslim)[27]
Anas mengatakan bahwa pada Perang Hunain, Ummu Sulaim terlihat membawa sebilah parang. Ketika Abu Thalhah melihatnya, dia melaporkan hal itu kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Wahai Rasulullah, lihat Ummu Sulaim itu. Dia membawa sebilah parang.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu bertanya kepada Ummu Sulaim: “Untuk apa parang itu?” Ummu Sulaim menjawab: “Untuk aku gunakan sebagai alat berperang. Begitu ada salah seorang pasukan musyrik yang mendekatiku, akan aku tikam perutnya.” Mendengar jawaban Ummu Sulaim itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tersenyum. Ummu Sulaim lalu berkata: “Wahai Rasulullah, bunuhlah orang-orang Thulaqa’ (Thulaqa’ adalah penduduk Mekah yang masuk Islam setelah penaklukan kota Mekah. Dinamakan thulaqa’ atau orang-orang bebas karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membebaskan mereka dengan mengatakan: antumuth thulaqa’. Ketika peristiwa ini terjadi, Islam mereka masih lemah, sehingga Ummu Sulaim menduga mereka orang-orang munafik yang pantas dibunuh, karena mereka lari dari peperangan) yang setelah kamu bebaskan, kini mereka lari darimu.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: “Wahai Ummu Sulaim, sesungguhnya Allah telah berlaku cukup dan berbuat baik.” (HR Muslim)[28]


[1] Muslim, Kitab: Keutamaan-keutamaan para sahabat, Bab: Di antara keutamaan Ummu Sulaim ibunya Anas dan Bilal Radhiyallahu ‘Anhu, jilid 7, hlm. 145.
[2] ibid
[3] Yang terdapat di dalam kurung diambil dari hadits no. 148.
[4] Shahih Sunan an-Nasa’i, Kitab: Nikah, Bab: Perkawinan dalam Islam, hadits no. 3133, jilid 2, hlm. 703.
[5] Bukhari, Kitab: Manaqib, Bab: Manaqib Thalhah Radhiyallahu ‘Anhu, jilid 8, hlm. 128. Muslim, Kitab: Jihad, Bab: Pertempuran kaum wanita bersama kaum pria, jilid 5, hlm. 196
[6] Bukhari, Kitab: Minuman, Bab: Meminta minum air tawar, jilid 12, hlm. 175. Muslim, Kitab: Zakat, Bab: Keutamaan memberikan nafkah dan sedekah kepada karib kerabat dan suami, jilid 3, hlm. 79.
[7] Bukhari, Kitab: Jenazah, Bab: Orang yang tidak terlihat sedihnya ketika ditimpa musibah, jilid 3, hlm. 412. Kitab: Aqiqah, Bab: Memberi nama anak pada pagi hari dia dilahirkan, jilid 12, hlm 6. Muslim, Kitab: keutamaan-keutamaan para sahabat, Bab: Di antara keutamaan Abu Thalhah al-Anshari, jilid 7, hlm. 145.
[8] Bukhari, Kitab: Jihad dan peperangan, Bab: Keutamaan orang yang mempersiapkan orang yang hendak berperang atau menggantikannya (di rumah) dengan baik, jilid 6 hlm. 390 Muslim, Kitab: Keutamaan-keutamaan para sahabat, Bab: di antara keutamaan Ummu Sulaim, ibunya Anas bin Malik, jilid 7, hlm 145.
[9] Bukhari, Kitab: Nikah, Bab: Hadiah untuk pengantin lelaki, jilid 11, hlm. 134.
[10] Bukhari, Kitab: Puasa, Bab: Orang yang berziarah ke tempat suatu-kaum, tetapi tidak berbuka di tempat mereka, jilid 5, hlm. 131.
[11] Muslim, Kitab: Keutamaan-keutamaan, Bab: Wanginya keringat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mencari berkah padanya, jilid 7, hlm. 81.
[12] Bukhari, Kitab: Adab, Bab: Kunyah (gelar) untuk anak kecil dan lelaki yang belum punya anak, jilid 13, hlm. 204.
[13] Bukhari, Kitab: Hibah, Bab: Keutamaan pemberian, jilid 6, hlm. 171. Muslim, Kitab: Jihad, Bab: Orang-orang Muhajirin mengembalikan kepada orang-orang Anshar pemberian mereka, jilid 5, hlm. 162.
[14] Muslim, Kitab: Keutamaan-keutamaan para sahabat, Bab: Di antara keutamaan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, jilid 7, hlm. 159.
[15] Bukhari, Kitab: Nikah, Bab: Resepsi perkawinan itu adalah hak (benar), jilid 11, hlm. 138.
[16] Muslim, Kitab: Keutamaan-keutamaan para sahabat, Bab: Di antara keutamaan Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, jilid 7, hlm. 160.
[17] Bukhari, Kitab: Nikah, Bab: Hadiah untuk pengantin lelaki, jilid 11, hlm. 134. Muslim, Kitab: Nikah, Bab: Perkawinan Zainab binti Jahasy, jilid 4, hlm. 150. Riwayat ini menurut versi Muslim.
[18] Muslim, Kitab: Nikah, Bab: Keutamaan memerdekakan budak perempuan kemudian mengawininya, jilid 4, hlm. 147.
[19] Bukhari, Kitab: Shalat, Bab: Apa yang disebutkan mengenai paha, jilid 2, hlm. 25. Muslim, Kitab: Nikah, Bab: Keutamaan memerdekakan budak perempuan kemudian mengawininya, jilid 4, hlm. 145.
[20] Muslim, Kitab: Minuman, Bab: Boleh mengajak orang lain ke rumah orang yang diyakini tidak akan merasa keberatan akan hal itu, jilid 6, hlm. 120.
[21] Bukhari, Kitab: Manaqib, Bab: Tanda-tanda kenabian dalam Islam, jilid 7, hlm. 399. Muslim, Kitab: Minuman, Bab: Boleh mengajak orang lain ke rumah orang yang diyakini tidak akan merasa keberatan akan hal itu, jilid 6, hlm. 118.
[22] Bukhari, Kitab: Jenazah, Bab: Hal yang terlarang mengenai meratap dan menangis dan bolehnya membentak karena perbuatan tersebut, jilid 3, hlm. 420. Muslim, Kitab: Jenazah, Bab: Larangan keras meratap, jilid 3, hlm. 46.
[23] Bukhari, Kitab: Ilmu, Bab: Malu dalam menuntut ilmu, jilid 1, hlm. 239. Muslim, Kitab: Haid, Bab: Kewajiban mandi atas wanita tersebut, jilid 1, hlm. 172.
[24] Muslim, Kitab: Haid, Bab: Anjuran menggunakan kapas yang diberi minyak wangi pada tempat yang terkena darah bagi wanita haid ketika mandi, jilid 1, hlm. 180.
[25] Bukhari, Kitab: Manaqib orang Anshar, Bab: Manaqib Abu Thalhah Radhiyallahu ‘Anhu, jilid 8, hlm. 180. Muslim, Kitab: Jihad Bab: Kaum wanita ikut berperang bersama kaum pria, jilid 5, hlm. 196.
[26] Hadits mengenai keikutsertaan Ummu Sulaim pada Perang Khaibar sudah disebutkan sebelumnya dimana Ummu Sulaim mempersiapkan Shafiyyah untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika mereka dalam perjalanan pulang.
[27] Muslim, Kitab: Jihad dan peperangan, Bab: Kaum wanita ikut berperang bersama kaum pria, jilid 5, hlm. 196.
[28] ibid.

Dikutip dari http://hasanalbanna.com/

Hasan Al Banna


Hasan Al BannaHasan Al Banna dilahirkan di desa Mahmudiyah kawasan Buhairah, Mesir tahun 1906 M. Ayahnya, Syaikh Ahmad al-Banna adalah seorang ulama fiqh dan hadits. Sejak masa kecilnya, Hasan al Banna sudah menunjukkan tanda-tanda kecemerlangan otaknya. Pada usia 12 tahun, atas anugerah Allah, Hasan kecil telah menghafal separuh isi Al-Qur'an.
Sang ayah terus menerus memotivasi Hasan agar melengkapi hafalannya. Semenjak itu Hasan kecil mendisiplinkan kegiatannya menjadi empat. Siang hari dipergunakannya untuk belajar di sekolah.


Kemudian belajar membuat dan memperbaiki jam dengan orang tuanya hingga sore. Waktu sore hingga menjelang tidur digunakannya untuk mengulang pelajaran sekolah. Sementara membaca dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur'an ia lakukan selesai shalat Shubuh. Maka tak mengherankan apabila Hasan al Banna mencetak berbagai prestasi gemilang di kemudian hari. Pada usia 14 tahun Hasan al Banna telah menghafal seluruh Al-Quran. Hasan Al Banna lulus dari sekolahnya dengan predikat terbaik di sekolahnya dan nomor lima terbaik di seluruh Mesir. Pada usia 16 tahun, ia telah menjadi mahasiswa di perguruan tinggi Darul Ulum.

Demikianlah sederet prestasi Hasan kecil. Selain prestasinya di bidang akademik, Ia juga memiliki bakat leadership yang cemerlang. Semenjak masa mudanya Hasan Al-Banna selalu terpilih untuk menjadi ketua organisasi siswa di sekolahnya. Bahkan pada waktu masih berada di jenjang pendidikan i'dadiyah (semacam SMP), beliau telah mampu menyelesaikan masalah secara dewasa, kisahnya begini:

Suatu siang, usai belajar di sekolah, sejumlah besar siswa berjalan melewati mushalla kampung. Hasan berada di antara mereka. Tatkala mereka berada di samping mushalla, maka adzan pun berkumandang. Saat itu, murid-murid segera menyerbu kolam air tempat berwudhu. Namun tiba-tiba saja datang sang imam dan mengusir murid-murid madrasah yang dianggap masih kanak-kanak itu. Rupanya, ia khawatir kalau-kalau mereka menghabiskan jatah air wudhu. Sebagian besar murid-murid itu berlarian menyingkir karena bentakan sang imam, sementara sebagian kecil bertahan di tempatnya. Mengalami peristiwa tersebut, al Banna lalu mengambil secarik kertas dan menulis uraian kalimat yang ditutup dengan satu ayat Al Qur'an, "Dan janganlah kamu mengusir orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya."(Q. S. Al-An'aam: 52).
Kertas itu dengan penuh hormat ia berikan kepada Syaikh Muhammad Sa'id, imam mushalla yang menghardik kawan-kawannya. Membaca surat Hasan al Banna hati sang imam tersentuh, hingga pada hari selanjutnya sikapnya berubah terhadap "rombongan anak-anak kecil" tersebut. Sementara para murid pun sepakat untuk mengisi kembali kolam tempat wudhu setiap mereka selesai shalat di mushalla. Bahkan para murid itu berinisiatif untuk mengumpulkan dana untuk membeli tikar mushalla!

Pada usia 21 tahun, beliau menamatkan studinya di Darul 'Ulum dan ditunjuk menjadi guru di Isma'iliyah. Hasan Al Banna sangat prihatin dengan kelakuan Inggris yang memperbudak bangsanya. Masa itu adalah sebuah masa di mana umat Islam sedang mengalami kegoncangan hebat. Kekhalifahan Utsmaniyah (di Turki), sebagai pengayom umat Islam di seluruh dunia mengalami keruntuhan. Umat Islam mengalami kebingungan. Sementara kaum penjajah mempermainkan dunia Islam dengan seenaknya. Bahkan di Turki sendiri, Kemal Attaturk memberangus ajaran Islam di negaranya. Puluhan ulama Turki dijebloskan ke penjara. Demikianlah keadaan dunia Islam ketika al Banna berusia muda. Satu di antara penyebab kemunduran umat Islam adalah bahwa umat ini jahil (bodoh) terhadap ajaran Islam.

Maka mulailah Hasan al Banna dengan dakwahnya. Dakwah mengajak manusia kepada Allah, mengajak manusia untuk memberantas kejahiliyahan (kebodohan). Dakwah beliau dimulai dengan menggalang beberapa muridnya. Kemudian beliau berdakwah di kedai-kedai kopi. Hal ini beliau lakukan teratur dua minggu sekali. Beliau dengan perkumpulan yang didirikannya "Al-Ikhwanul Muslimun," bekerja keras siang malam menulis pidato, mengadakan pembinaan, memimpin rapat pertemuan, dll. Dakwahnya mendapat sambutan luas di kalangan umat Islam Mesir. Tercatat kaum muslimin mulai dari golongan buruh/petani, usahawan, ilmuwan, ulama, dokter mendukung dakwah beliau.
Pada masa peperangan antara Arab dan Yahudi (sekitar tahun 45-an), beliau memobilisasi mujahid-mujahid binaannya. Dari seluruh Pasukan Gabungan Arab, hanya ada satu kelompok yang sangat ditakuti Yahudi, yaitu pasukan sukarela Ikhwan. Mujahidin sukarela itu terus merangsek maju, sampai akhirnya terjadilah aib besar yang mencoreng pemerintah Mesir. Amerika Serikat, sobat kental Yahudi mengancam akan mengebom Mesir jika tidak menarik mujahidin Ikhwanul Muslimin. Maka terjadilah sebuah tragedi yang membuktikan betapa pengecutnya manusia. Ribuan mujahid Mesir ditarik ke belakang, kemudian dilucuti. Oleh siapa? Oleh pasukan pemerintah Mesir! Bahkan tidak itu saja, para mujahidin yang ikhlas ini lalu dijebloskan ke penjara-penjara militer. Bahkan beberapa waktu setelah itu Hasan al Banna, selaku pimpinan Ikhwanul Muslimin menemui syahidnya dalam sebuah peristiwa yang dirancang oleh musuh-musuh Allah.

Dakwah beliau bersifat internasional. Bahkan segera setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, Hasan al Banna segera menyatakan dukungannya. Kontak dengan tokoh ulama Indonesia pun dijalin. Tercatat M. Natsir pernah berpidato didepan rapat Ikhwanul
Muslimin. (catatan : M. Natsir di kemudian hari menjadi PM Indonesia ketika RIS berubah kembali menjadi negara kesatuan).
Syahidnya Hasan Al-Banna tidak berarti surutnya dakwah beliau. Sudah menjadi kehendak Allah, bahwa kapan pun dan di mana pun dakwah Islam tidak akan pernah berhenti, meskipun musuh-musuh Islam sekuat tenaga berusaha memadamkannya.

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. (Q. S. Ash-Shaff: 8)
Masa-masa sepeninggal Hasan Al-Banna, adalah masa-masa penuh cobaan untuk umat Islam di Mesir. Banyak murid-murid beliau yang disiksa, dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum mati, terutama ketika Mesir di perintah oleh Jamal Abdul Naseer, seorang diktator yang condong ke Sovyet. Banyak pula murid beliau yang terpaksa mengungsi ke luar negeri, bahkan ke Eropa. Pengungsian bagi mereka bukanlah suatu yang disesali. Bagi mereka di mana pun adalah bumi Allah, di mana pun adalah lahan dakwah. Para pengamat mensinyalir, dakwah Islam di Barat tidaklah terlepas dari jerih payah mereka. Demikianlah, siksaan, tekanan, pembunuhan tidak akan memadamkan cahaya Allah. Bahkan semuanya seakan-akan menjadi penyubur dakwah itu sendiri, sehingga dakwah Islam makin tersebar luas.

Di antara karya penerus perjuangan beliau yang terkenal adalah Fi Dzilaalil Qur'an (di bawah lindungan Al-Qur'an) karya Sayyid Quthb. Sebuah kitab tafsir Al-Qur'an yang sangat berbobot di jaman kontemporer ini. Ulama-ulama kita pun menjadikannya sebagai rujukan terjemahan Al-Qur'an dalam Bahasa Indonesia. Di antaranya adalah Al-Qu'an dan Terjemahannya keluaran Depag RI, kemudian Tafsir Al-Azhar karya seorang ulama Indonesia Buya Hamka. Mengenal sosok beliau akanlah terasa komplit apabila kita mengetahui prinsip dan keyakinan beliau.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip yang senantiasa beliau pegang teguh dalam dakwahnya:
Saya meyakini: "Sesungguhnya segala urusan bagi Allah. Nabi Muhammad SAW junjungan kita, penutup para Rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Sesungguhnya hari pembalasan itu haq (akan datang). Al-Qur’an itu Kitabullah. Islam itu perundang-undangan yang lengkap untuk mengatur kehidupan dunia akhirat."
Saya berjanji: "Akan mengarahkan diri saya sesuai dengan Al-Qur’an dan berpegang teguh dengan sunah suci. Saya akan mempelajari Sirah Nabi dan para sahabat yang mulia."
Saya meyakini: "Sesungguhnya istiqomah, kemuliaan dan ilmu bagian dari sendi Islam."
Saya berjanji: "Akan menjadi orang yang istiqomah yang menunaikan ibadah serta menjauhi segala kemunkaran. Menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia dan meninggalkan akhlak-akhlak yang buruk. Memilih dan membiasakan diri dengan kebiasaan-kebiasaan islami semampu saya. Mengutamakan kekeluargaan dan kasih sayang dalam berhukum dan di pengadilan. Tidak akan pergi ke pengadilan kecuali jika terpaksa, akan selalu mengumandangkan syiar-syiar islam dan bahasanya. Berusaha menyebarkan ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk seluruh lapisan umat ini."
Saya meyakini: "Seorang muslim dituntut untuk bekerja dan mencari nafkah, di dalam hartanya yang diusahakan itu ada haq dan wajib dikeluarkan untuk orang yang membutuhkan dan orang yang tidak punya.
Saya berjanji: "Akan berusaha untuk penghidupan saya dan berhemat untuk masa depan saya. Akan menunaikan zakat harta dan menyisihkan sebagian dari usaha itu untuk kegiatan-kegiatan kebajikan. Akan menyokong semua proyek ekonomi yang islami, dan bermanfaat serta mengutamakan hasil-hasil produksi dalam negeri dan negara Islam lainnya. Tidak akan melakukan transaksi riba dalam semua urusan dan tidak melibatkan diri dalam kemewahan yang diatas kemampuan saya."
Saya meyakini: "Seorang muslim bertanggung jawab terhadap keluarganya, diantara kewajibannya menjaga kesehatan, aqidah dan akhlak mereka."
Saya berjanji: "Akan bekerja untuk itu dengan segala upaya. Akan menyiarkan ajaran-ajaran islam pada seluruh keluarga saya, dengan pelajaran-pelajaran islami. Tidak akan memasukkan anak-anak saya ke sekolah yang tidak dapat menjaga aqidah dan akhlak mereka. Akan menolak seluruh media massa, buletin-buletin dan buku-buku serta tidak berhubungan dengan perkumpulan-perkumpulan yang tidak berorientasi pada ajaran Islam."
Saya meyakini: "Di antara kewajiban seorang muslim menghidupkan kembali kejayaan Islam dengan membangkitkan bangsanya dan mengembalikan syariatnya, panji-panji islam harus menjadi panutan umat manusia. Tugas seorang muslim mendidik masyarakat dunia menurut prinsip-prinsip Islam."
Saya berjanji: "Akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan risalah ini selama hidupku dan mengorbankan segala yang saya miliki demi terlaksananya misi (risalah) tersebut."
Saya meyakini: "Bahwa kaum muslim adalah umat yang satu, yang diikat dalam satu aqidah islam, bahwa islam yang memerintahkan pemelukya untuk berbuat baik (ihsan) kepada seluruh manusia."
Saya berjanji: "Akan mengerahkan segenap upaya untuk menguatkan ikatan persaudaraan antara kaum muslimin dan mengikis perpecahan dan sengketa di antara golongan-golongan mereka."
Saya meyakini: "Sesungguhnya rahasia kemunduran umat Islam, karena jauhnya mereka dari "dien" (agama) mereka, dan hal yang mendasar dari perbaikan itu adalah kembali kepada pengajaran Islam dan hukum-hukumnya, itu semua mungkin apabila setiap kaum muslimin bekerja untuk itu."

Biografi Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani

Nama beliau adalah Abu Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Nuh al-Albani. Dilahirkan pada tahun 1333 H di kota Ashqodar ibu kota Albania yang lampau. Beliau dibesarkan di tengah keluarga yang tak berpunya, lantaran kecintaan terhadap ilmu dan ahli ilmu. Ayah al Albani yaitu Al Haj Nuh adalah lulusan lembaga pendidikan ilmu- ilmu syari’at di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul), yang ketika Raja Ahmad Zagho naik tahta di Albania dan mengubah sistem pemerintahan menjadi pemerintah sekuler, maka Syeikh Nuh amat mengkhawatirkan dirinya dan diri keluarganya. Akhirnya beliau memutuskan untuk berhijrah ke Syam dalam rangka menyelamatkan agamanya dan karena takut terkena fitnah. Beliau sekeluargapun menuju Damaskus.


Setiba di Damaskus, Syeikh al-Albani kecil mulai aktif mempelajari bahasa arab. Beliau masuk sekolah pada madrasah yang dikelola oleh Jum’iyah al-Is’af al-Khairiyah. Beliau terus belajar di sekolah tersebut tersebut hingga kelas terakhir tingkat Ibtida’iyah. Selanjutnya beliau meneruskan belajarnya langsung kepada para Syeikh. Beliau mempelajari al-Qur’an dari ayahnya sampai selesai, disamping itu mempelajari pula sebagian fiqih madzab Hanafi dari ayahnya. Syeikh al-Albani juga mempelajari keterampilan memperbaiki jam dari ayahnya sampai mahir betul, sehingga beliau menjadi seorang ahli yang mahsyur. Ketrampilan ini kemudian menjadi salah satu mata pencahariannya. Pada umur 20 tahun, pemuda al-Albani ini mulai mengkonsentrasi diri pada ilmu hadits lantaran terkesan dengan pembahasan-pembahsan yang ada dalam majalah al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Syeikh Muhammad Rasyid Ridha. Kegiatan pertama di bidang ini ialah
menyalin sebuah kitab berjudul “al-Mughni ‘an Hamli al-Asfar fi Takhrij ma fi al-Ishabah min al-Akhbar”. Sebuah kitab karya al-Iraqi, berupa takhrij terhadap hadits-hadits yang terdapat pada Ihya’ Ulumuddin al-Ghazali. Kegiatan Syeikh al-Albani dalam bidang hadits ini ditentang oleh ayahnya seraya berkomentar. “Sesungguhnya ilmu hadits adalah pekerjaan orang-orang pailit (bangkrut)”. Namun Syeikh al-Albani justru semakin cinta terhadap dunia hadits. Pada perkembangan berikutnya, Syeikh al-Albani tidak memiliki cukup uang untuk membeli kitab-kitab. Karenanya, beliau memanfaatkan Perpustakaan adh-Dhahiriyah di sana (Damaskus). Di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Begitulah, hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan. Akhirnya kepala kantor perpustakaan memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau. Bahkan kemudiaan beliau diberi wewenang untuk membawa kunci perpustakaan. Dengan demikian, beliau menjadi leluasa dan terbiasa datang sebelum yang lainnya datang. Begitu pula pulangnya ketika orang lain pulang pada waktu dhuhur, beliau justru pulang setelah sholat isya. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.

Pengalaman 
Penjara

Syeikh al-Albani pernah dipenjara dua kali. Kali pertama selama satu bulan dan kali kedua selama enam bulan. Itu tidak lain karena gigihnya beliau berdakwah kepada sunnah dan memerangi bid’ah sehingga orang-orang yang dengki kepadanya menebarkan fitnah.

Beberapa Tugas yang Pernah Diemban

Syeikh al-Albani Beliau pernah mengajar di Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam Madinah) selama tiga tahun, sejak tahun 1381-1383 H, mengajar tentang hadits dan ilmu-ilmu hadits. Setelah itu beliau pindah ke Yordania. Pada tahun 1388 H, Departemen Pendidikan meminta kepada Syeikh al-Albani untuk menjadi ketua jurusan Dirasah Islamiyah pada Fakultas Pasca Sarjana di sebuah Perguruan Tinggi di kerajaan Yordania. Tetapi situasi dan kondisi saat itu tidak memungkinkan beliau memenuhi permintaan itu. Pada tahun 1395 H hingga 1398 H beliau kembali ke Madinah untuk bertugas sebagai anggota Majelis Tinggi Jam’iyah Islamiyah di sana. Mandapat penghargaan tertinggi dari kerajaan Saudi Arabia berupa King Faisal Fundation tanggal 14 Dzulkaidah 1419 H.

Beberapa Karya Beliau

Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul. Beberapa Contoh Karya Beliau adalah :

* Adabuz-Zifaf fi As-Sunnah al-Muthahharah
* Al-Ajwibah an-Nafi’ah ‘ala as’ilah masjid al-Jami’ah
* Silisilah al-Ahadits ash Shahihah
* Silisilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal maudhu’ah
* At-Tawasul wa anwa’uhu
* Ahkam Al-Jana’iz wabida’uha

Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang pelbagai masalah yang bermanfaat. Selanjutnya Syeikh al-Albani berwasiat agar perpustakaan pribadinya, baik berupa buku-buku yang sudah dicetak, buku-buku foto copyan, manuskrip-manuskrip (yang ditulis oleh beliau sendiri ataupun orang lain) semuanya diserahkan ke perpustakaan Jami’ah tersebut dalam kaitannya dengan dakwah menuju al-Kitab was Sunnah, sesuai dengan manhaj salafush Shalih (sahabat nabi radhiyallahu anhum), pada saat beliau menjadi pengajar disana.

Wafatnya

Beliau wafat pada hari Jum’at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania. Rahimallah asy-Syaikh al-Albani rahmatan wasi’ah wa jazahullahu’an al-Islam wal muslimiina khaira wa adkhalahu fi an-Na’im al-Muqim.

Hadist merupakan salah satu rujukan sumber hukum Islam di samping kitab suci Alquran. Di dalam hadist Nabi Muhammad SAW itulah terkandung jawaban dan solusi masalah yang dihadapi oleh umat di berbagai bidang kehidupan. Berbicara tentang ilmu hadist, umat Islam tidak akan melupakan jasa Al-Albani. Ia merupakan salah satu tokoh pembaharu Islam abad ini.

Karya dan jasa-jasanya cukup banyak dan sangat membantu umat Islam terutama dalam menghidupkan kembali ilmu hadits. Ia berjasa memurnikan ajaran Islam dari hadits-hadits lemah dan palsu serta meneliti derajat hadits.



Referensi :

- http://www.kajianislam.net/modules/smartsection/item.php?itemid=180

- http://strodong.co.cc/tag/biografi/


Dikutip dari http://kolom-biografi.blogspot.com

FUDHAIL BIN ‘IYADH



Dia adalah Abu Ali, Fudhail bin’ ‘Iyadh bin Mas’ud bin Basyar At-Tamimi. Lahir di kota Khurasan, tepatnya di daerah Muru. Ayahnya dikenal sebagai seorang yang takut kepada Allah. la mempunyai dua orang anak, Ali dan Abu Ubaidah, yang dinyatakan olehnya, “Aku benar-benar mencintainya karena ia mendampingiku saat aku telah tua.” Ia juga memiliki pembantu yang pandai bernama Ibrahim bin Al-Asy’ats. Darinya, Ibrahim mengambil ilmu dan Hadits. Selain pembantu, ia pun memiliki keledai. Fudhail berkata, “Sungguh aku mengetahui diriku benar-benar maksiat kepada Allah melalui bumknya perangai pembantu dan keledaiku.” Fudhail juga bekerja mengurusi kesejahteraan air minum para jamaah haji di samping mengurusi kebutuhan keluarganya. Fudhail berkata, “Engkau telah menjadikan aku dan keluargaku lapar dan Engkau biarkan aku berada dalam kegelapan malam tanpa lampu. Sesungguhnya Engkau melakukan seperti halnya terhadap para kekasih-Mu. Lalu dengan kedudukan apakah aku mendapatkan semua ini dari-Mu?”



Di awal hidupnya, Fudhail, selama beberapa waktu, sempat menyimpang. Fudhail bin Musa berkata, “Fudhail bin Iyadh dahulunya seorang perampok di bawah kekuasaan Ayburad dan Sarkhas, namun kemudian ia bertaubat. Sebab taubatnya ialah bahwa ia mencintai seorang wanita. Ketika sedang menaiki sebuah dinding untuk menemui kekasihnya itu, tiba-tiba ia mendengar seseorang sedang membaca ayat, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun [kepada mereka].” (QS. al-Hadid: 16) Ketika mendengar itu, ia menjawab, “Tentu wahai Tuhanku, telah tiba saatnya.” la segera pulang, namun malam membawanya singgah di sebuah bangunan runtuh yang ternyata di dalamnya terdapat beberapa orang yang juga kemalaman. Salah seorang dari mereka berkata kepada yang lainnya, “Mari kita melanjutkan perjalanan.” Temannya menyahut, “Bagaimana kalau di tengah perjalanan ada Fudhail?” Fudhail mendengar percakapan itu. la merenungkannya lantas berkata, “Namaku disebut-sebut di malam hari dalam kemaksiatan sedangkan mereka merasa takut kepadaku. Tidaklah Allah menunjukkanku kepada mereka, melainkan agar aku sadar. Ya Allah, kini aku bertaubat kepada-Mu.”
Lalu Fudhail pergi ke Kufah untuk menuntut ilmu. Dia pun akhirnya menjadi seorang yang ahli dalam Hadits. Fudhail berpaling dari kemewahan duniawi. Sekalipun ribuan dinar di sodorkan kepadanya dari para penguasa dan raja, namun ia menolaknya. ia tidak ingin memasukkan ke dalam perutnya. Kecuali yang jelas-jelas halal karena mengamalkan firman Allah SWT, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah yang halal dan yang baik dari apa yang ada di bumi.” Dia selalu mengingat cerita Sa’ad bin Abi Waqqash saat bertutur kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berdo’alah kepada Allah agar aku menjadi orang yang do’anya dikabulkan.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Hai Sa’ad, bersihkanlah makananmu, niscaya do’amu dikabulkan. Demi Allah Yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya seseorang manakala memasukkan ke dalam dirinya makanan haram, maka ibadahnya ditolak selama empat puluh hari. Dan siapa saja yang dagingnya tumbuh dari barang haram dan riba, maka neraka paling layak baginya.” Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik, tidak menerima, kecuali yang baik.”
Fudhail adalah seorang faqih yang mumpuni. Mengenai ibadah dia pernah berkata, “Seorang hamba tidak akan mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang lebih baik daripada ibadah fardhu. Ibadah fardhu adalah modal, sedangkan nawafil (amalan sunnah) adalah keuntungan.” Ucapannya ini dipetik dari sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi yang beliau riwayatkan dari Rabbnya, “Barangsiapa memusuhi wali (kekasih)-Ku, maka Aku menyatakan perang dengannya. Tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai dari apa yang Aku fardhukan kepadanya. Dan hamba-Ku akan selalu bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal sunnah sampai Aku mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi telinganya yang dengannya ia mendengar, menjadi matanya yang dengannya ia melihat, menjadi tangannya yang dengannya ia berbuat, serta menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Manakala ia meminta kepada-Ku, Aku sungguh memberinya dan jika memohon perlindungan kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar memberinya perlindungan.” (Muttafaq ‘alaih)
Fudhail banyak memberikan nasihat-nasihat. Di antara ungkapan-ungkapan nasihatnya ialah:
 “Jauhilahmanusiatanpaharusmeninggalkanjama’ah.”
 “Siapa saja yang mencintai pelaku bid’ah, maka amalnya akan dihapus oleh Allah dan akan dikeluarkan dari relung kalbuny a cahaya Islam.”
 “Barangsiapa membantu pelaku bid’ ah, berarti ia membantu menghancurkan Islam.”
Pandangan Fudhail bin ‘lyadh tentang Kekuasaan
Fudhail memberi sangat membenci kekuasaan politis. Mengenai hal ini Fudhail berkata, “Seseorang mendekati bangkai yang berbau busuk jauh lebih baik daripada mendekati mereka para penguasa.” Ia juga berkata, “Seandainya ulama bersikap zuhud terhadap dunia, pasti leher-leher para penguasa tiran akan tunduk kepada mereka.” Dia pernah memberi nasihat kepada Imam Suryan bin ‘Uyainah, seorang ulama besar, “Kalian, wahai para ulama, adalah lampu yang menerangi negeri. Tetapi, kemudian kalian menjadi lapisan kegelapan. Kalian adalah bintang yang dijadikan pedoman, namun setelah itu kalian menjadi sesuatu yang membingungkan. Tidakkah seseorang dari kalian malu kepada Allah bila datang kepada para penguasa lalu mendapatkan harta dari mereka, sementara ia tidak mengetahui dari mana asalnya harta itu. Kemudian ia kembali mengajar dengan bersandar pada mihrab seraya berkata, “Si Fulan telah raenceritakan kepadaku dari Si Fulan.” Ia juga berkata, “Mengapa kalian mendekati para penguasa? Padahal betapa besar pemberian mereka kepada kalian; mereka telah meninggalkan jalan akhirat untuk kalian, sementara kalian justru berdesak-desakan di atas jalan dunia.”
Harun al-Rasyid memiliki jalan menuju kemewahan hidup, namun terkadang ia memiliki rasa takut yang sangat kepada Allah. Ia berkata kepada Fudhail, “Betapa zuhudnya engkau.” Fudhail membalas, “Engkau lebih zuhud dariku. Karena zuhudku terhadap dunia dan ia memang sesuatu yang fana, sedangkan zuhudmu terhadap akherat, padahal ia abadi.”
Fudhail dan Al-Quran
Fudhail meriwayatkan dari Rasulullah SAW, “Allah tidak akan menyia-nyiakan seorang hamba yang bangun shalat di tengah malam lalu membaca surat al-Baqarah dan Ali Imran, dan sebaik-baiknya perbendaharaan seorang Mukmin adalah al-Baqarah dan Ali Imran.” Ia pernah bertutur, “Para qari al-Rahman ialah mereka yang memiliki kelembutan dan ketundukan, sedangkan para qari penguasa ialah mereka yang yang memiliki kesombongan, ujub, dan suka meremehkan orang lain.”
Menurut Fudhail, pembawa Al-Quran adalah pembawa bendera Islam. Tidak patut baginya untuk bermain-main seperti orang-orang yang suka bermain-main dan menganggur, juga tidak lalai sebagaimana orang yang biasa lalai.
Fudhail sebagai Ahli Hadits
Fudhail bin ‘lyadh adalah seorang cerdas, kuat hapalannya, dan juga wara’. Tiga sifat ini merupakan modal utama seorang ahli hadits. Dia paham betul tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berdusta kepadaku secara sengaja, maka bersiap-siaplah menempati tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)
Menurut Ibnu Sa’ad, Fudhail adalah seorang yang tsiqah, pemilik keutamaan, wara’, ahli ibadah, dan banyak menyimpan Hadits. Sementara bagi Imam Nawawi, hadis yang diriwayatkan oleh Fudhail itu Shahih.
Suatu ketika, dia melihat sekelompok ahli hadits bercanda sambil tertawa-tawa. Maka, ia menegur mereka, “Hati-hatilah, wahai pewaris Nabi.” Lalu ia berkata, “Kalian adalah imam yang diikuti.”
Di antara Hadits yang diriwayatkannya ialah, “Di antara yang didapati manusia dari ucapan kenabian pertama kali ialah, “Jika kamu tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Ia meriwayatkan juga dan Sayyidah Aisyah bahwa ia berkata, “Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahii ‘alaihi wa sallam membalas kezhaliman sama sekali selama tidak berkenaan dengan pelanggaran terhadap apa yang dilarang Allah. Tetapi, bila satu dari larangan-larangan Allah diterjang, maka beliau orang yang paling marah dalam masalah ini. Dan tidaklah beliau diharuskan memilih antara dua pilihan, melainkan memilih yang paling ringan dari keduanya selama itu tidak akan menjadi dosa.” (HR. Muslim)
Fudhail Ahli Tasawuf
Menurut Fudhail, orang yang mengenal Allah dan jalan mahabbah tanpa disertai rasa takut, maka ia akan hancur dengan kegembiraan dan kesenangan. Orang yang mengenal Allah tanpa mengetahui jalannya, ia akan menyimpang dan bertambah jauh dari-Nya. Dan orang yang mengenal Allah melalui jalan keduanya (ma’rifah dan suluk), maka Allah akan mencintainya, mendekatinya, memuliakannya, dan menunjukinya [jalan menuju ke sisi-Nya.
Ketika Abdullah bin Malik bertanya kepadanya, “Bagaimana cara keluar dari persoalan yang membelit?” Ia menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Coba jawab, apakah orang yang taat kepada Allah Ta ‘ala dicelakakan oleh kemaksiatan seseorang?”
“Tidak,” jawab Abdullah.
“Apakah orang yang bermaksiat kepada Allah akan mendapat manfaat dari ketaatan seseorang?” tanyanya lagi.
“Tidak,” Abdullah kembali menjawab.
“Itulah jalan keluar, kalau memang engkau mau,” lanjut Fudhail. Lalu ia membaca ayat, “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang murni (bersih dari syirik). ” (QS. az-Zumar: 2-3)
Fudhail meninggal dan dimakamkan di Bab Mushalla.

Sumber: http://mustafit.wordpress.com

Minggu, 27 Januari 2013

Abdullah bin Mubarak


13270134711208061864Dia bernama lengkap Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubarak Al-Hanzhali Al-Marwazi.Ia terkenal dengan nama panggilan Ibnu Mubarak. Dilahirkan pada tahun 118 H/736 M sebuah kampong bernama Marwa dari seorang Ayah keturunan Turki dan ibunya keturunan Persia.

Ulama, Mujahid dan Dermawan
Abdullah bin Al Mubarak, seorang tabi’in yang sangat terkenal dengan sifat kedermawanannya. Meskipun beliau termasuk orang yang cukup mampu, namum beliau sangat mengerti bagaimana cara mempergunakan hartanya di jalan yang diridhai oleh-Nya.
Beliau (Ibnul Mubarak) biasa pulang pergi ke Tharasus dan biasanya saat di tengah perjalanan bila hari telah menjelang malam, beliau segera singgah beristirahat di sebuah penginapan. Di penginapan itu, ada seorang pelayan muda yang biasa mengurus kebutuhannya. Dan yang lebih menarik perhatian Ibnul Mubarak adalah bahwa pemuda itu ditengah pekerjaan melayani dirinya, juga sangat rajin belajar hadits dengannya. Semangat belajarnya sangat tinggi. Pekerjaanya sebagai pelayan tidak menghalangi untuk terus dan terus memepelajari hadits.
Hingga suatu hari, beliau kembali singgah ke penginapan itu, namum tidak mendapati pemuda tersebut. Saat itu beliau memang sangat tergesa-gesa untuk berperang bersama tentara muslimin, sehingga beliau tidak sempat menanyakan hal itu. Barulah setelah pulang dari peperangan dan kembali ke penginapan, beliau segera menanyakan perihal pemuda tersebut. Orang-orang memberitahukan padanya bahwa pemuda itu kini tengah ditahan karena terlibat hutang yang belum dibayarnya. Maka demi mendengar penjelasan itu, beliau segera bertanya, “Berapakah besar hutangnya, sampai ia tak mampu membayarnya ?”
“Sepuluh ribu dirham,” jawab mereka.
Kemudian beliupun segera menyelidiki dan mencari si pemilik hutang itu. Setelah mengetahui orangnya, beliau lantas menyuruh seseorang untuk memanggil orang tersebut pada malam harinya. Setelah orang itu tiba, Ibnul Mubarak langsung menghitung dan membayar seluruh hutang pemuda tersebut.
Namun segera beliau berpesan, agar pemilik hutang tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun selama beliau masih hidup. Dan orang itupun menyetujuinya. Dan akhirnya Ibnul Mubarak berkata, “Apabila pagi tiba, segera keluarkan pemuda itu dari tahanan.”
Pagi harinya, Abdullah bin Al Mubarak pun segera bergegas pergi sebelum pemuda itu dibebaskan. Pemuda itu kembali ke penginapan. Orang-orang yang melihatnya langsung berkata, “Kemarin Abdullah bin Al Mubarak ke sini dan menanyakan tentang dirimu, namun saat ini dia sudah pergi lagi.” Kini yakinlah pemuda itu, bahwa Abdullah bin Al Mubarak yang telah membebaskan dirinya. Maka segera ia menyelusuri jejak Abdullah dan berhasil menjumpai beliau kira-kira dua-tigamarhalah (sata marhalah kira-kira dua belas mil) jauhnya dari penginapan. Setelah Abdullah bin Mubarak melihat pemuda itu, beliau lantas berkata, “Kemana saja engkau anak muda? Kenapa aku tak pernah melihatmu lagi di penginapan ?”
Pemuda itu lantas menjawab, “Benar wahai Abu Abdirrahman (Ibnul Mubarak), saya memang baru saja ditahan karena terlilit hutang.”
“Lalu bagaimana engkau dibebaskan?” tanya Abdullah.
“Seseorang telah datang membayar seluruh hutangku, hingga aku bisa dibebaskan. Namun sampai saat ini aku tidak tahu, siapa orang yang telah menolongku,” ujar pemuda itu lagi. Ia berharap bila Abdullah mengakuinya, bahwa Abdullahlah orang yang telah membebaskan dirinya.
Namun beliau justru berkata, “Wahai pemuda, bersyukurlah engkau kepada Allah yang telah memberikan taufik-Nya kepadamu, sehingga bisa terlepas dari hutang.”
Maka pemuda itupun kembali ke penginapan tanpa membawa jawaban dari semua rahasia pembebasan dirinya. Lelaki pemilik hutang itu pun tak pernah memberitahukan kepada siapapun sampai Abdullah bin Al- Mubarak wafat.
Ibadah Dan Rasa Takutnya Kepada Allah
Dari Al Qasim bin Muhammad dia berkata, “Kami berada dalam sebuah perjalanan bersama Ibnu Al Mubarak, banyak hal yang aku pikirkan. Aku selalu bertanya-tanya dalam hati, apa yang membuat orang ini menjadi mulia dan terkenal seperti sekarang, jika dia shalat maka kami juga shalat, jika dia berpuasa maka kamipun berpuasa, jika dia ikut berperang maka kami pun juga ikut berperang dan jika dia menunaikan haji maka kami pun juga menunaikan ibadah haji?”
Muhammad Al Qasim berkata lagi, kami sedang dalam perjalanan ke Syam, kami makan malam dalam sebuah rumah penginapan yang tidak ada lampu, sebagian dari kami mencari lampu keluar, aku pun diam di tempat. Namun seberkas cahaya lampu tiba-tiba muncul sehingga aku melihat muka dan jenggot Ibnu Al Mubarak basah dengan air mata. Aku berkata dalam hati, dengan inilah dia menjadi orang yang dimulaikan. Dan kemungkinan ketika lampu-lampu sudah dimatikan Ibnu Al Mubarak sibuk mengingat hari kiamat.
Al Marwazi berkata, aku mendengar Abu Abdullah Ahmad Bin Hambal berkata, “Ibnu Al Mubarak tidak diangkat derajatnya oleh Allah kecuali karena dia telah banyak melakukan kebaikan yang tidak diketahui banyak orang.”
Abu Ishaq Ibrahim Bin Al Asy’ats berkata, “Ketika Ibnu Al Mubarak sedang sakit keras, dia terlihat bersedih sehingga seseorang berkata kepadanya, Bagimu tidak ada yang perlu dirisaukan, kenapa kamu bersedih seperti ini?” Al Mubarak menjawab, “Aku telah sakit sedang aku belum ridha dengan keadaanku.”
Abu Ishaq berkata, “Seseorang bertanya kepada Ibnu Al Mubarak, ‘Jika ada dua orang yang satu mempunyai rasa takut kepada Allah dan satunya lagi terbunuh dalam membela agama Allah, siapa yang paling anda senangi dari kedua orang ini?” Dia menjawab, “Yang paling aku senangi adalah orang yang mempunyai rasa takut kepada Allah.”
Abu Ruh pernah berkata, “Ibnu Al Mubarak telah berkata, ‘Sesungguhnya mata ditipu oleh empat perkara, Pertama, oleh dosa yang telah lewat, pandangan mata tidak mengetahui apa yang Allah perbuat sebagai balasan dosa tersebut. Kedua, oleh umur yang telah berlalu, pandangan mata tidak mengetahui bagaimana harus mempertanggungjawabkan dosa yang telah diperbuat selama itu. Ketiga, oleh kemuliaan yang telah diberikan, pandangan mata tidak mengetahui apakah kemuliaan itu adalah tipuan atau tingkatan yang sebenarnya yang telah didapat. Keempat, oleh kesesatan yang menghiasi seseorang, sedangkan dia mengangggapnya sebagai petunjuk. Barang siapa menyeleweng sedikit maka dengan cepat matanya akan membohonginya dan agamanya akan rusak sedang dia tidak menyadarinya.’”
Dari Abdullah bin Ashim Al Harawi, berkata, “Ada seorang kakek datang kepada Ibnu Al Mubarak, ketika dia melihatnya sedang bersandar di atas bantal tinggi dan kasar, kakek itu lalu berkata, ‘Aku ingin berkata sesuatu kepadanya namun aku melihatnya ketakutan sehingga aku menaruh belas kasih kepadanya.’ Lalu Abdullah Bin Al Mubarak berkata, ‘Allah telah berfirman, “katakanlah kepada orang laki-laki hendaklah mereka menahan pandangannya” Allah telah melarang untuk melihat kecantikan perempuan karena bagaimana kalau sampai berzina dengannya? Allah juga berfirman” kecelakaan besar bagi orang-orang curang” dalam ukuran dan timbangan, bagaimana dengan orang-orang yang mengambil harta dengan cara bathil? Dan Allah juga telah berfirman” Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain” dan bagaimana dengan orang-orang yang membunuh orang lain?’ Kakek itu lalu berkata, ‘Allah akan memberikan rahmat-Nya kepada Al Mubarak, aku tidak melihat ada orang sepertinya dan aku juga tidak akan berkata sesuatu kepadanya.’
Kezuhudan Dan Kewaraan
Dari Abu Ali bin Al Fudhail, dia berkata, “Aku pernah mendengar ayahku berkata kepada Ibnu Al Mubarak, “Wahai Al Mubarak anda telah memerintahkan kepada kami agar berlaku zuhud, menyedikitkan hal-hal duniawi dan merasa cukup, namun kami melihat anda membawa barang-barang dari negara Khurasan ke tanah Mekah, bagaimana kamu melakukan itu?” Ibnu Al Mubarak menjawab, “Wahai Abu Ali, sesungguhnya aku melakukan hal itu untuk menjaga diriku, menjaga kehormatanku dan untuk menopang dalam bertaat kepada Allah, aku tidak melihat kebaikan kecuali aku harus melakukannya dengan cepat.” Kemudian Al Fudhail berkata kepadanya, “Wahai Ibnu Al Mubarak, kamu benar, tidak ada yang lebih baik kecuali kamu telah menjalankannya.”
Dari Hasan bin Arafah, dia berkata, Ibnu Al Mubarak berkata kepadaku, Aku menjamin sebuah pena dari penduduk Syam, setelah selesai aku pergi untuk mengembalikan pena tersebut kepada pemiliknya. Namun ketika aku sampai di Marwa tiba-tiba orang yang aku pinjami pena itu telah berada bersamaku. Maka aku pun mengurungkan niatku, kemudian aku kembali ke Syam untuk mengembalikan pena itu kepadanya setelah dia kembali ke Syam.
Dari Ali bin Al Hasan bin Syaqiq dia berkata, “Aku mendengar Abdullah bin Al Mubarak berkata, “Sesungguhnya mengembalikan satu dirham dari sesuatu yang syubhat lebih baik bagiku dari pada aku bersedekah seratus ribu sampai enam ratus ribu dirham”.
Budi Pekerti Dan Kemuliaannya
Ismail Al Khuthabi berkata, “Ibnu Al Mubarak pernah bercerita kepadaku, bahwa pada suatu hari Al Mubarak datang kepada Hammad bin Zaid dan ulama-ulama hadits berkata kepada Hammad, “Mintalah Ibnu Al Mubarak untuk bercerita kepada kami tentang hadits. Lalu Hammad berkata, “Wahai Ibnu Al Mubarak, mereka meminta kepadaku agar kamu bercerita kepada mereka. Ibnu Al Mubarak menjawab “SubhanAllah, ya Abu Ismail, aku berbicara dan kamu ada?” Hammad berkata, “Aku berharap dengan sangat agar kamu mau melakukannya dan wahai sahabat-sahabatku dengarkanlah Ibnu Al Mubarak.” Maka Ibnu Al Mubarak pun berdiri untuk berbicara, namun dia hanya bercerita sebentar dan itu pun mengutip dari perkataan Hammad. Abu Al Abbas bin Masruq berkata, “Ibnu Humaid pernah bercerita kepada kami, ‘Ada seseorang bersin di samping Ibnu Al Mubarak, orang itu bertanya kepadanya, “apa yang harus aku ucapkan ketika bersin?” Dia menjawab, “Alhamdulillah” Dan setelah orang itu membaca hamdalah, maka Ibnu Al Mubarak berkata “yarhamukAllah” kemudian Ibnu Humaid  berkata, “kami semua merasa kagum dengan sopan santun yang diperlihatkan Ibnu Al Mubarak.”
Ibnu Al Mubarak  berkata, “Kami sangat membutuhkan budi pekerti yang luhur karena sudah banyak orang yang mempunyai budi pekerti yang luhur meninggalkan kita.”
Diriwayatkan dari Al Khatib dengan sanad dari Hibban bin Musa, ia berkata, “Ibnu Al Mubarak sangat menyayangkan terhadap orang-orang yang membedakan profesi sehingga muncul diskriminasi terhadap kelompok tertentu di berbagai daerah.”
Dari Umar bin Hafsh Ash Shufi dari Manbaj, ia berkata, “Ibnu Al Mubarak dari Baghdad ingin pergi ke Al Mashishah, dia ditemani sekelompok sufi. Al Mubarak berkata kepada mereka, ‘Hendaknya kalian tidak membebankan nafkah kecuali kepada kalian.’”
Muhammad bin Ali bin Syaqiq dari ayahnya, ia berkata jika musim haji tiba, Ibnu Al Mubarak mengumpulkan saudara-saudara dari keluarganya yang berada di desa Marwa, mereka berkata, “Kami akan menemanimu menunaikan haji wahai Abu Abdurrahman.” Setelah mereka puas dengan pesta itu, Al Mubarak memerintahkan untuk membuka peti itu, setelah peti itu terbuka Ibnu Al Mubarak memberikan setiap orang dari mereka kantong yang berisi uang yang mereka masukkan sendiri-sendiri. Dan diketahui bahwa setiap bungkusan yang masuk ke dalam peti itu telah diberi tanda oleh Al Mubarak terhadap yang memasukkannya.
Semangat Jihad Dan Keberaniannya
Selain ilmunya yang luas, kezuhudan, kemuliaan dan banyaknya beribadah ,beliau juga banyak dihiasi dengan kegemaran berjihad dan mempunyai keberanian tinggi. Diriwayatkan dari Al Khatib dengan sanad dari Ubaid bin Sulaiman (nama lainnya Al Marwazi) ia berkata, Ketika kami sedang berada dalam satuan militer bersama Abdullah bin Al Mubarak di negara Rum, tiba-tiba kami berpapasan dengan musuh. Dan ketika kami saling berhadapan ada seorang yang keluar dari barisan musuh, ia mengajak untuk berduel. Maka muncullah seorang dari kaum muslimin memenuhi tantangan duel. Tetapi ternyata musuh cukup tangguh. Jago muslim tersebut menemui syahidnya. Dan demikianlah, tujuh jago muslim berhasil tertaklukkan. Kemudian muncullah seorang lelaki bercadar melanjutkan tantangan duel. Dalam beberapa kali gebrakan ternyata jagoan kafir tersebut bias dihabisi. Kemudian muncullah jago seterusnya sampai tujuh orang berturut turut dan semuanya bias ditewaskan muslim bercadar tersebut. Ternyata tidak lain orang tersebut adalah Ibnu Mubarak. ”
Dari Muhammad bin Ibrahim bin Abu Sakinah, dia berkata ketika Abdullah bin Al Mubarak berada di Thursus, ia mendiktekan kepadaku beberapa bait sya’ir lalu aku membawa syair-syair itu kepada Al Fudhail bin Iyadh. Hal ini terjadi pada tahun 170 Hijriyah sedang menurut riwayat dari Abu Ghanim kejadian itu terjadi pada tahun 177 H. Di antara syair-syair itu adalah:
wahai abid al haramain, jika kamu melihat kami
maka kamu akan mengetahui ibadahmu main-main
orang yang membasahi pipinya dengan air mata
maka kami membasahinya dengan darah kami
Semoga ke depannya muncul kembali ulama-ulama yang bisa meniru Abdullah bin Mubarak . Wallahul musta’an.
Dikutipkan dari berbagai sumber

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Seni Islam

More on this category »
Sirah

More on this category »
Tokoh

More on this category »
'Aqidah

More on this category »
 
Copyright © 2011. infoduniaislam: Tokoh . All Rights Reserved
Template modify by Creating Website. Inspired from CBS News